Reaktor Nuklir, Kebutuhan di Tengah Ancaman
Oleh Armin Mustamin Toputiri
Hari Juma’t, 11 Maret 2011, tatkala menyaksikan di layar televisi, bagaimana negeri sakura diguncang gempa berkekuatan 9,0 skala richter (SR), disusul gulungan gelombang tsunami setinggi kurang lebih 10 meter, saya hanya mampu beristighfar menyaksikan bagaimana dahsyatnya resiko bencana alam itu. Tapi tidak selang lama, benak saya sontak berkelebat, muncul rasa was-was, bagaimanakah nasib reaktor nuklir ---- PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), yang nyaris hampir ada di setiap sudut wilayah negara yang sangat kuat menjunjung tadisi moyangnya itu.
Rasa was-was yang sontak berkelebat dalam benak saya ke arah PLTN Jepang itu, tak lain karena sedikitnya saya tahu jika Jepang adalah pemilik pembangkit nuklir terbesar ketiga di dunia. Jepaang memiliki 53 unit (46,236 Megawatt) --- setelah Amerika Serikat (104 unit) dan Francis (59 unit) --- sekaligus memosisikan Jepang sebagai negara pemilik reaktor nuklir terbesar di kawasan Asia, sedikit lebih di atas dari Korea Selatan pada urutan lima dengan 20 unit reaktor nuklir.
Sedikitnya saya tahu soal itu, tak lain karena pertengahan 2007, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di negeri itu, semata hanya untuk meninjau sejumlah pusat reaktor nuklir dimiliki Jepang. Saya ikut ambil bagian dari sejumlah 10 orang perwakilan Indonesia --- utusan sejumlah ormas tingkat nasional --- di bawah sponsor Kantor Menristek RI, sekaitan dengan rencana pemerintah Indonesia membangun PLTN di tiga lokasi di Pegunungan Muria, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tepatnya di Ujung Lemah Abang, Ujung Latu dan Ujung Greng-grengan.
Penetapan pegunungan Muria Jepara sebagai lokasi pembangunan dan pengeporasian PLTN, didasarkan studi kelayakan dan penentuan tapak yang dilakukan perusahaan New Jack Corporation Jepang (1991-1996), disusul verifikasi ulang oleh PT Rekayasa Industri, badan usaha milik Departemen Perindustrian RI, bekerjasama Surgent & Loundry dari Australia. Selain dinilai aman dari bencana gempa, juga karena Muria dekat dengan sumber air, dari laut Jawa, untuk kebutuhan pendinginan reaktor nuklir. Sedangkan bahan baku uranium, PLTN memiliki dua tambang di Kalimantan Barat.
Proyek raksasa yang menelan ivestasi mencapai 30 triliun rupiah itu, pembangunannya akan dimulai tahun 2012. Dan sesuai rencana akan diresmikan pengeporasiannya 2016. Jika reaktor nuklir milik pemerintah Indonesia ini beroperasi, krisis energi listrik Indonesia sedikitnya dapat ditalangi, setidaknya untuk kebutuhan di Pulau Jawa dan Bali. Dari enam unit reaktor nuklir yang direncanakan, masing-masing bisa menghasilkan daya 600 MW, sehingga totalnya dapat dihasilkan 3600 MW.
***
Kembali pada soal bencana gempa dan tsunami yang memporak-porandakan negeri Sakura Jepang, selang dua hari setelah peristiwa mengenaskan itu terjadi, tersiar berita di sejumlah media, salah satu pusat reaktor nuklir dimiliki Jepang benar-benar meledak. Apa yang sejak semula membuat saya was-was, ternyata benar terjadi. Sebabnya rasa was-was saya, kini sudah berubah wujud menjadi bayangan kengerian akan resiko dilahirkan dari meledaknya reaktor nuklir itu. Dan hanya karena kebetulan, reaktor yang meledak, adalah yang terletak di daerah Fukushima Daiichi, dimana tak lain adalah salah satu pusat reaktor nuklir Jepang yang ikut kami kunjungi, sewaktu melakukan peninjauan nuklir di Jepang sana.
Berdasar pertanyaan yang kami cecarkan pada pengelola perusahaan nuklir Jepang --- Tokyo Electronic Power Co (Tepco) --- kala kunjungan itu. Dijelaskan bahwa setiap kali pembangunan reaktor nuklir, sejatinya soal bencana gempa bumi, memang adalah satu diantara sekian resiko yang dijadikan titik perhatian khusus, sehingga konstruksi bangunan setiap pusat reaktor nuklir, dengan sistem rancang bangun tekhnologi sangat canggih, coba dilakukan untuk mengantisipasinya. Dan seperti kita saksikan gambarnya dalam beberapa saluran televisi, pusat reaktor nukIir jepang di Daiichi Fukushima tetap tegak berdiri.
Hanya saja karena guncangan gempa ini kali begitu tinggi, 9,0 SR, mengakibatkan atap gedung reaktor itu retak, sedikit demi sedikit jadi bocor, memberi resiko suhu dalam pembangkit terganggu. Pendingin yang berguna menjaga batang “fuel rods” (bahan bakar), akhirnya tidak berfungsi sama sekali. Dan ledakan terjadi justru saat dilakukan upaya pendinginan menggunakan air. Tapi air yang dimasukkan ke dalam reaktor, justru mencipta hidrogen saat terpapar dengan batang “fuel rods” . Lantaran hidrogen membesar, memaksa petugas mengeluarkan sebagian, tapi saat dikeluarkan, hidrogen itu bercampur oksigen. Percampuran itulah yang melahirkan resiko ledakan.
***
Sayang sekali, disiplin ilmu dan pengetahuan saya, tidak cukup untuk memahami dan menjelaskan resiko bahaya menakutkan dilahirkan dari radiasi atom meledaknya pusat reaktor nuklir itu. Seperti masyarakat pada umumnya, pengetahuan saya paling sebatas traumatik dari tragedi Hiroshima dan Nagasaki 60 tahun silam, serta bocornya saluran pipa reaktor nuklir di Chernobyl, Ukraina, 1986 lalu, yang menelan korban kematian. Lembaga pecinta lingkungan, “Greenpeace” menduga bisa mencapai 93.000 orang, sedangkan WHO menyebutkan angka 9.000 orang meninggal dunia, dan sekitar 4.000 kasus kanker tiroid sesudahnya (1990- 2002).
Berdasar penelusuran saya dari berbagai sumber pustaka dan internet, setidaknya secara sederhana dapat diketahui bahwa apabila makhluk hidup terkena radiasi atom nuklir berbahaya, biasanya akan terjadi mutasi gen karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh pada makhluk hidup, baik manusia, tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Efek ditimbulkan radiasi zat radioaktif, diantaranya; pusing-pusing, nafsu makan berkurang, diare, badan panas atau demam, berat badan menurun, kanker darah atau leukemia, meningkatnya denyut jantung atau nadi, daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang penyakit akibat sel darah putih berkurang.
***
Saya kira, ancaman atas resiko radiasi dari kebocoran reaktor nuklir seperti itulah pemicu sekelompok masyarakat dan LSM pecinta lingkungan menolak pembangunan rektor nuklir, PLTN di pegunungan Muria, Jepara. Meskipun sebelumnya, Indonesia telah lama mengembangkan teknologi nuklir dan memiliki tiga reaktor, yaitu Reaktor G. A Siwabessy di Serpong, Reaktor Triga 2000 di Bandung, dan Reaktor Kartini di Jogyakarta, meskipun ketiga reaktor itu sangat kecil, hanya sebatas tujuan riset untuk menghasilkan berbagai macam teknologi yang penggunaanya non energi.
Serba dilematis memang. Banyak kejadian yang memberi dampak sangat buruk dari resiko pembangunan reaktor nuklir, yang meninggalkan “cacat bawaan” sebagai teknologi yang apapun dalihnya harus ditolak. Padahal di sisi lain kita tak boleh menutup mata bahwa ketersediaan daya listrik Indonesia yang sangat terbatas itu, semakin terseok-seok memenuhi kebutuhan daya listrik masyarakat. Terlebih lagi kebutuhan daya listrik untuk industri Indonesia, yang dengan semangat nasionalisme kita selalu mendorong kebangkitan Industri berdasar prinsip kemandirin.
Saya teringat pesan yang nyaris sama di kesempatan berbeda, disampaikan dua pimpinan perusahaan PLTN Jepang dan Korea Selatan, saat kami meninjau reaktor nuklir milik dua negara adi daya di Asia, sekaligus pengguna nuklir urutan ketiga dan kelima di dunia itu. “Jika ingin negara Anda Indonesia juga ingin maju seperti negara kami, tak ada jalan lain selain bertumpu pada pembangunan reaktor nuklir. Indonesia tak bisa hanya berharap dari sumber daya alamnya yang melimpah, karena pada saatnya nanti juga akan punah”, jelas keduanya. Lantaran daya jangkau pemahaman saya tentang reaktor nuklir sangat terbatas, makanya saya hanya bisa mengangguk hormat, khas ala masyarakat Jepang.
Makassar, 17 Maret 2011
Photo: Penulis dengan latar belakang pembangunan reaktor nuklir Busan-Korea Selatan, 2007.
